Sabtu, 23 November 2013

Pengantar Koran di AS Temukan Boneka Beruang Berisi Bom

  • Minggu, 24 November 2013 | 02:58 WIB
Ilustrasi Teddy Bear. | DOK
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Seorang pengantar koran menemukan sebuah boneka beruang di sebuah jalanan sepi, tanpa mengetahui di dalam boneka itu terdapat sebuah bom rakitan.

Kisahnya berawal ketika Anthony Cannon (42) melihat boneka beruang itu pada Kamis (21/11/2013) dini hari di rute sehari-harinya saat mengantar koran di kota kecil Lattimore, Carolina Utara, AS.

Setelah mengantar ekoran, Cannon kembali melintas jalan sepi itu dan kemudian mengambil boneka beruang tersebut.

"Saya berpikir sungguh aneh sebuah boneka beruang tergeletak di tengah jalan seperti itu," kenang Cannon.

"Saat itu masih gelap. Saat saya mengangkat mainan itu, saya melihat ada semacam wadah yang terjatuh," kata dia.

Tanpa menyadari dia tengah membawa sebuah bom rakitan, Cannon meninggalkan boneka itu dan membawa benda silinder yang jatuh dari dalam tubuh boneka itu ke dalam mobilnya. Cannon lalu menuju ke kediaman sepupunya. Di sana, dengan cahaya yang lebih terang, dia memeriksa benda yang ditemukannya itu.

Cannon mengatakan, saat itu dia melihat sebuah botol kecil berisi air yang dilapisi plester, dengan sejumlah kawat menjulur.  Curiga benda itu berbahaya Cannon meletakkan benda temuannya itu dan langsung menelepon polisi.

Polisi yang merespon panggilannya adalah kesatuan penjinak bom dari kota tetangga yang lebih besar, Gastonia.

"Hanya dalam dua menit, polisi mengatakan benda itu adalah sebuah bom dan meminta kami semua keluar dari rumah," ujar Cannon.

Sheriff Cleveland Alan Norman mengatakan, Cannon sangat beruntung karena benda itu tidak meledak saat dia mengutak-atiknya. "Benda itu bisa mengakibatkan cedera yang sangat parah," kata Sheriff Norman.

Polisi berhasil menjinakkan bom itu dan membawanya ke laboratorium untuk diteliti. Para penyidik federal kini tengah mencari orang yang membuat peledak tersebut.

Meski bom itu bisa membuatnya terluka atau bahkan tewas, Cannon mengatakan dia senang dialah yang menemukan benda berbahaya itu.

"Jika anak-anak melintasi jalan itu dan melihat boneka beruang itu, saya yakin mereka akan mengambilnya," ujar Cannon.

Petani China Sukses Membuka Sawah di Atap Gedung

  • Minggu, 24 November 2013 | 10:03 WIB
Inilah sawah milik Peng Quigen yang dibuka di atas atap kediamannya di kota Shaoxing, provinsi Zhejiang, China. Di sawah ini, Peng berhasil menanam berbagai hasil bumi mulai buah-buahan, sayuran hingga padi. | Xinhua News
BEIJING, KOMPAS.com - Seorang petani China, Peng Quigen belum lama ini menjadi "bintang" media lokal negeri itu setelah dia sukses bercocok tanam di atas atap kediamannya di Shaoxing, provinsi Zhejiang.

Peng, membuka kebun di atas atap rumahnya yang berlantai empat. Di ladang uniknya itu dia sukses menanam berbagai tanaman mulai buah-buahan, sayuran, hingga beras.

Dan Peng membuka lahan pertanian di atas atap rumahnya ini bukan sekadar hobi atau mencari sensasi. Dari ladangnya yang hanya seluas 120 meter persegi itu, Peng mendapatkan hasil panen yang cukup siginifikan.

Tahun lalu, Peng menghasilkan 400 kilogram semangka dari ladang di atas atap rumahnya itu. Bahkan hasil panen Peng, lebih banyak 30 persen dari hasil di ladang konvensional.

Tahun ini, Peng mencoba menanam padi di atap rumahnya itu. Dan meski terkena dampak topan Fitow yang baru-baru ini menerjang China, Peng berharap panen padinya itu cukup banyak untuk konsumsi satu orang dewasa selama satu tahun.

Apa yang membuat ladang di atas gedung ini begitu istimewa? Peng mengatakan, hal yang paling istimewa kemungkinan besar adalah fakta bahwa ladang ini dibuka di atas landasan beton.

Namun, kondisi itu justru menguntungkan karena masalah hilangnya air dan erosi tahan tidak menjadi kendala di ladang milik Peng ini. "Itulah sebabnya hasil di ladang ini lebih tinggi ketimbang di ladang biasa," ujar dia.

Sebagian besar konstruksi yang dibangun di atap berbagai gedung di China adalah ilegal dan mengundang protes warga. Namun, para tetangga Peng justru menyukai ide unik ini dan bahkan mereka secara sukarela ikut membantu Peng memanen hasil buminya itu.

Bahkan pemerintah setempat sejauh ini tidak menganggap ladang "angkasa" Peng itu melanggar peraturan.

Ingin Pakai Jilbab ke Kantor, Wanita Australia Dipecat

  • Minggu, 24 November 2013 | 05:47 WIB
Ilustrasi perempuan berjilbab. | ABC Australia
CANBERRA, KOMPAS.com - Seorang pekerja wanita di kota Wollongong menuduh sebuah perusahaan akuntansi lokal memecat dirinya karena ingin memakai jilbab ke tempat kerja.
Padahal perempuan itu, Mariam El Hassan (23), telah bekerja di perusahaan tersebut selama lima tahun.  
Kuasa hukum Miriam mengatakan kliennya telah meminta izin kepada perusahaan tersebut  apakah dia boleh mulai mengenakan jilbab saat bekerja atas alasan agama. Namun, permohonannya itu ditolak.
Michelle Walsh dari kantor pengacara Turner Freeman mengatakan Miriam El Hassan justru diberitahu untuk tidak datang lagi ke kantor ketika dia meminta izin untuk mengenakan jilbab.
"Dia libur satu hari untuk merayakan Hari Raya dan diminta untuk datang bekerja,” kata Walsh.
"Meski demikian, dia menerima telepon dari resepsionis yang mengatakan dirinya tidak dibolehkan masuk ke kantor seperti itu, dan harus minta izin terlebih dahulu. Klien kami lalu berkomunikasi lewat SMS dengan atasannya yang mengatakan dia tidak bisa datang ke kantor jika mengenakan jilbab, " ujar Michelle.
Masalah ini diharapkan dapat selesai sebelum diajukan ke Fair Work Australia untuk konsiliasi bulan depan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3